HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kadisdik Purwakarta: Teknologi dan Kultur Jadi Kendala Pembelajaran Jarak Jauh di Purwakarta

Ilustrasi belajar daring/antara



SUARA PURWAKARTA - Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta melansir kultur masyarakat dan teknologi menjadi kendala terberat sistem pembelajaran jarak jauh. Kondisi itu, berpengaruh besar terhadap pembelajaran saat pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Purwanto mengatakan selama Covid-19, anak-anak diharuskan sekolah dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Ada plus dan minusnya dari sistem ini. Namun, yang paling dirasakan dan menjadi kendala saat ini, adalah mengenai kultur dan teknologi.

"Tidak semua murid, punya handphone cerdas, serta tidak semua wilayah jaringan sinyalnya bagus. Terlebih lagi, mengenai kultur kebiasaan di masyarakat. Itu yang menjadi kendala selama ini," ujar Purwanto dilansir dari Bisnis.com, Minggu (7/2/2021).

Mengenai kultur, ada masyarakat yang melibatkan anak-anaknya untuk membantu pekerjaan mereka. Misalkan, seharusnya anak itu mengikuti pembelajaran secara daring, tapi malah diajak orang tuanya untuk bekerja ke sawah, kebun, ataupun ladang.

Karena itu, pembelajaran jarak jauh ini, memang harus dikaji lagi. Terutama, bagi masyarakat di pedesaan. Sebab, bila di perkotaan, anak-anak dan orang tua sudah terbiasa dengan handphone pintar. Jadi, ketika belajar secara daring, mereka tak terlalu kaget.

Sebaliknya, di pedesaan sudah susah sinyal, orang tuanya juga banyak yang belum faham dengan teknologi tersebut. Karena itu, untuk memaksimalkan pembelajaran selama pandemi ini, maka guru dituntut untuk kreatif.

"Kalau tidak bisa secara daring, anak-anak bisa belajar secara luring. Atau, gurunya berkeliling door to door untuk mengajar kepada anak-anak," ujarnya.

Hal itu, sudah dilakukan di Purwakarta. Adapun persoalan terberat yang dihadapi, yaitu mengenai letak geografis. Sebab, ada guru yang harus mendatangi muridnya dengan menempuh medan yang berat. Seperti, di Kecamatan Sukasari, Maniis, Tegalwaru, Kiarapedes, Bojong dan Darangdan.

"Ada guru, yang harus pakai perahu menyebrangi Danau Jatiluhur dulu, baru bisa mengajar pada muridnya. Meski demikian, pembelajaran selama Covid-19 ini tetap berjalan dengan lancar dan guru tetap beraktivitas seperti biasanya," ujar Purwanto.

Sementara itu, Dayat, salah seorang guru kelas di SDN Sukamukti 3, Kecamatan Maniis, tak sanggup menahan haru saat menerima bantuan gawai pintar dari Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta. Matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka mendapatkan perhatian lebih dari instansi tersebut.

"Meskipun dengan segala keterbatasan pelayanan pendidikan kepada para siswa tetap dimaksimalkan," ujar Dayat.

Dayat mengaku, banyak kendala yang ia hadapi selama masa pandemi. Di antaranya adalah keterbatasan perangkat pembelajaran jarak jauh. Kebanyakan siswa tidak memiliki gawai pintar untuk belajar daring. Sehingga, jelas pembelajaran tidak bisa terselenggara secara maksimal.

Kebanyakan siswa di sekolahnya, berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Sehingga tidak memiliki gawai pintar. Ini jelas sangat mengganggu penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh.

Untuk mengatasi situasi tersebut, maka solusinya adalah kunjungan ke rumah (home visit). Lagi-lagi, ada kendala yang harus ia hadapi, mulai dari urusan jarak tempuh hingga situasi yang memaksa siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran. (K60)



Sumber: Bisnis

Posting Komentar

0 Komentar