HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ekonomi Masih Lesu, PHRI Jabar Sebut Banyak Hotel Terancam Gulung Tikar

Ilustrasi Hotel / istockphoto



SUARA PURWAKARTA - Kondisi ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik akibat pandemi COVID-19 berimbas langsung terhadap bisnis perhotelan di Jabar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman Muchtar mengatakan, jumlah hotel di Jabar yang tak mampu bertahan di tengah pandemi alias gulung tikar atau bangkrut jumlahnya bisa mencapai ratusan hotel.

"Kalau se-Jabar kemungkinan angkanya bisa ratusan. Saya belum bisa memberi angka pasti," ungkap Herman dalam keterangannya, Jumat (5/2/2021). Menurut dia, pandemi yang tak kunjung berakhir mengakibatkan bisnis perhotelan lesu, seperti yang terjadi di Kota Bandung yang notabene menjadi tujuan favorit wisatawan di Jabar. Diakuinya, hotel yang bangkrut kebanyakan memang berada di Kota Bandung.

"Saya belum mencatat ya (jumlah hotel uang bangkrut), yang jelas yang sudah tutup dan belum buka lagi sudah banyak, terpuruk. Ini kan sudah melebih Januari, memasuki Februari COVID-19 belum pulih juga," katanya.

"Di Kota Bandung cukup banyak, iya kayanya gitu (paling banyak)," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Jabar pada tahun 2020 tercatat masih negatif. Kepala BPS Jabar Dyah Anugrah mengatakan, ekonomi Jabar tahun 2020 terkontraksi 2,44 persen atau menurun dibanding tahun 2019 yang mencapai sebesar 5,07 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Jabar pada tahun 2020 tercatat minus 2,44 persen. Namun pada triwulan IV 2020 sudah menunjukan adanya tren positif," terang Dyah, Jumat (5/2/2021).

Dyah mengatakan, ekonomi Jabar pada triwulan IV-2020 terlihat mengalami pertumbuhan sebesar 0,22 persen bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q).

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 15,84%. Adapun dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Konsumsi Pemerintah sebesar 45,96%.

Dari sisi produksi, lanjut Dyah, pertumbuhan terendah dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Perusahaan sebesar -18,38%. Dyah menyebutkan lapangan usaha informasi dan komunikasi masih memberikan andil pertumbuhan positif bagi Jabar.

Pihaknya mencatat, terdapat lima kategori lapangan usaha yang mampu tumbuh positif di saat pandemi COVID-19, yaitu usaha informasi dan komunikasi disusul pengadaan air, pengelolaan sampah, dan jasa pengolahan limbah dan daur ulang. Selain itu, jasa pendidikan, real estate, dan jasa keuangan serta asuransi.

"Pertumbuhan ekonomi digital Jabar hingga 40 persen menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Jabar tahun 2020," katanya.




Sumber: Sindonews

Posting Komentar

0 Komentar