HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Imlek, DKUPP Purwakarta Kunjungi Pasar-pasar Tradisional

Pedagang sayuran menunggu pembeli di satu pasar tradisional di Purwakarta. Harga sejumlah komoditas pasar di Purwakarta masih stabil menjelang Imlek 2021. (Foto: iNews.id/Asep Supiandi)



SUARA PURWAKARTA - Petugas Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Purwakarta bergerilya menyasar pasar tradisional untuk memantau harga komoditas menjelang Imlek 2021. Pemantauan ini untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga sejumlah komoditas pasar.

Pasar tradisional yang menjadi sasaran petugas, yakni Pasar Leuwi Panjang, Pasar Rebo, Pasar Simpang dan sejumlah pasar lainnya yang tersebar di beberapa kecamatan. Hampir setiap hari mereka memantau perkembangan harga beberapa komoditas yang diprediksi akan naik.

Beberapa komoditas pasar di Purwakarta yang dipantau adalah cabai rawit merah dan hijau. Dua komoditas ini terpantau masih cukup mahal, yakni cabai rawit merah di kisaran Rp80.000/kg dan cabai rawit hijau di kisaran Rp60.000/kg. Hanya ayam potong yang mengalami penurunan menjadi Rp32.000-30.000/kg. 

"Secara umum komoditas pasar masih relatif stabil, tidak ada lonjakan berarti. Kami juga tidak mengkhawatirkan terjadi lonjakan menjelang perayaan Imlek atau Cap Gomeh," kata, Kabid Perdagangan DKUPP Purwakarta,  Wita Gusrianita kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (3/1/2021).

Alasannya, menurut dia, penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadikan perayaan Imlek 2021 tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sehingga permintaan pasar terhadap sejumlah komoditas tidak terlalu tinggi.   

Begitu pula, persitiwa kematian ikan secara massal di Waduk Jatiluhur beberapa waktu lalu tidak berpengaruh terhadap suplai ikan di Purwakarta. Kebutuhan ikan masih terpenuhi dengan suplai dari Kabupaten Subang. Harga ikan nila dan mas juga masih tetap stabil Rp35.000/kg.

"Kami akan terus pantau perkembangannya. Apalagi kematian massal ikan di Waduk Jatiluhur baru terjadi. Imbasnya mungkin belum terasa di Purwakarta," ucap dia.




Sumber: Inews

Posting Komentar

0 Komentar