HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Survei JSPP: Kota Bandung Masih Rendah Dalam Implementasi Protokol Kesehatan

BANDUNG - Komunitas Bandung Kolaborasi bersama Jaringan Survei Pemuda dan Pelajar (JSPP) menilai, pemahaman warga Kota Bandung terkait protokol kesehatan (prokes) berbanding terbalik dengan implementasinya. SINDOnews/Agung



SUARA PURWAKARTA - Komunitas Bandung Kolaborasi bersama Jaringan Survei Pemuda dan Pelajar (JSPP) menilai, pemahaman warga Kota Bandung terkait protokol kesehatan (prokes) berbanding terbalik dengan implementasinya.

Penilaian tersebut merupakan salah satu temuan hasil survei Evaluasi Kinerja Pemerintah di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Menurut Masyarakat Kota Bandung yang digelar oleh JSPP. Berdasarkan hasil survei, JSPP menilai, implementasi prokes oleh warga Kota Bandung rendah.

Direktur JSPP, Salman Hamdani menyatakan, perbandingan antara pemahaman dan implementasi prokes warga Kota Bandung masih jomplang. Di satu sisi, pemahaman warga Kota Bandung terhadap prokes tinggi, namun dalam tataran implementasinya masih rendah.

Dia memaparkan, dalam survei yang melibatkan 500 responden dari berbagai kalangan itu, pemahaman dan keyakinan warga Kota Bandung dalam menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan sebagai upaya pencegahan COVID-19 sangat tinggi, bahkan persentasenya rata-rata di atas 90 persen.

Namun, lanjut dia, dalam tataran implementasinya, persentase hasil survei yang diperoleh rata-rata di kisaran 50 persen. Dia menyebutkan, kebiasaan warga Kota Bandung dalam menggunakan masker hanya 63 persen, menjaga jarak 54 persen, menghindari kerumunan 55 persen, dan mencuci tangan 67 persen.

"Artinya, implementasi warga Kota Bandung dalam menerapkan protokol kesehatan masih rendah," ujar Salman saat merilis hasil survei JSPP di kawasan Jalan Braga, Kota Bandung, Kamis (14/1/2021).

Selain temuan tersebut, lanjut Salman, pihaknya juga menemukan fakta bahwa 10 persen warga Kota Bandung tidak percaya terhadap informasi soal COVID-19, tidak khawatir dengan COVID-19, dan tidak yakin pemerintah mampu menangani COVID-19.

"Selain itu, dari berbagai kebijakan pemerintah terkait penanganan COVID-19 yang cenderung berbeda dengan harapan masyarakat, yakni pengetatan kegiatan ekonomi (hanya 31 persen yang setuju) dan kebijakan pembelajaran online (hanya 42 persen yang setuju)," paparnya. Baca: Bocah Pembunuh Teller Cantik Bank BUMN di Denpasar Mulai Jalani Sidang.

Dalam kesempatan itu, Salman juga memaparkan bahwa mayoritas warga Kota Bandung menyetujui vaksinasi COVID-19 yang digaungkan oleh pemerintah saat ini.

Dia menyebutkan, sebanyak 70 persen warga Kota Bandung setuju bahwa vaksinasi merupakan jawaban segala upaya penanganan COVID-19. Hanya 16 persen yang tidak setuju dan 14 persen lainnya mengaku tidak tahu.

Meski setuju vaksinasi COVID-19 menjadi solusi dalam mengatasi pandemi, namun hanya sekitar 45 persen warga Kota Bandung yang meyakini bahwa vaksinasi jawaban segala upaya penanganan pandemi COVID-19. Sedangkan 35 persen di antaranya mengaku masih ragu-ragu, 10 persen tidak yakin, dan 9 persen tidak tahu. 

"Adapun warga Kota Bandung yang bersedia menjalani vaksinasi tercatat hanya 52 persen. Sedangkan 41 persen di antaranya tidak bersedia dan 7 persen tidak tahu. Umumnya, meraka yang menolak vaksinasi mayoritas beralasan karena takut," bebernya.



Sumber: Sindonews

Posting Komentar

0 Komentar