HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Setelah Kedelai, Kini Harga Cabe Rawit yang Meroket

Ilustrasi Cabe Rawit/suara


SUARA PURWAKARTA - Harga cabai rawit di Klaten melejit menyentuh angka Rp 80.000 per kilogram. Para pedagang dibuat pusing sebab harus mengurangi pembelian atau mengurangi isi eceran.

"Harga cabai rawit sudah Rp 80.000 sejak kemarin. Padahal sebelumnya hanya Rp 47.000 per kilogram nya jadi mengurangi kulakan (pembelian)," kata pedagang Pasar Tumuwangi, Kecamatan Pedan, Endang pada detikcom di kiosnya, Selasa (5/1/2021) pagi.

Menurut Endang sebelum tahun baru harga relatif di bawah Rp 50.000 per kilogramnya. Tapi begitu tahun baru langsung merangkak naik karena barang sulit.

"Naiknya sejak tahun baru kemarin. Bagi pedagang kenaikan itu memberatkan sebab menyita modal lebih banyak, sedangkan jika tak laku bisa busuk" lanjut Endang.

Untuk harga cabai merah keriting, imbuh Endang relatif stabil di harga Rp 30.000 per kilogram dan cabai hijau keriting Rp 19.000 per kilogram. Tapi konsumen tidak mau mengganti cabai rawit dengan cabai keriting.

"Ya kalau mantapnya cabai rawit ya tidak mau. Cabai merah keriting ini juga naik turun harganya," jelas Endang.

Yuda, penjual sayur keliling di Kota kecamatan Delanggu mengatakan bagi pedagang keliling kampung harga Rp 80.000 itu harga di pedagang pasar. Pedagang sayur keliling bisa Rp 90.000 sebab untuk bensin.

"Harga kulakan di pasar Jatinom saja sudah Rp 80.000 per kilogram hari ini. Kalau kami eceran ya Rp 90.000 jualnya," kata Yuda saat ditemui di sela keliling di Desa Sabrang.

Petani cabai di Desa Lemahireng, Kecamatan Pedan, Poniman mengatakan naiknya harga cabai itu bukan lantaran petani untung besar. Petani juga pusing sebab harga cabai rawit rontok.

"Banyak cabai rontok bukan karena penyakit tapi tidak kuat diterjang hujan dua pekan lalu yang terus menerus. Yang hijau saja rontok apalagi merah dan satu pohon bisa 30 biji semalem," jelas Poniman pada detikcom di sawahnya.

Biasanya, imbuh Poniman, kendala utama petani cabai saat musim hujan adalah jamur Patek. Namun sampai bulan ini tidak ada jamur itu.

"Gangguan jamur Patek tidak ada tahun ini, aman. Tapi ganti curah hujan yang jadi masalah menyebabkan cabai busuk di tengah lalu jatuh," pungkas Poniman.

Riyanto, petani cabai di lereng Gunung Merapi Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang mengatakan harga naik karena barang tidak ada. Cuaca yang hujan deras beberapa hari berturut-turut menjadi penyebabnya.

"Tahun ini faktor utamanya cuaca yang hujannya mundur dan deras. Selain itu kadang perilaku petani yang tidak tepat mengolah lahan," jelas Riyanto dihubungi detikcom melalui sambungan telepon.

Tidak hanya di wilayah bawah, imbuh Riyanto, di lereng Gunung Merapi pun harga di pasar sama. Sebab memang barangnya sedikit.

" Memang barangnya terbatas dan masyarakat sudah terbiasa dengan cabai. Ya sudah, petani juga sama repotnya," pungkas Riyanto.


Sumber: Detik

Posting Komentar

0 Komentar