HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ekosistem Digital, Peluang dan Tantangan

Ilustrasi E-Commerce/Antara Foto


OPINI, SUARA PURWAKARTA - Tahun Baru merupakan momentum yang tepat untuk menata kembali seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali keuangan. Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai beradaptasi menjalani kehidupannya di tengah pandemi Covid-19. Resolusi dan evaluasi adalah kata yang kerap terdengar ketika memasuki periode waktu yang baru. Keduanya dapat dibandingkan ketika dapat diukur. Salah satu aspek yang dapat diukur adalah aspek keuangan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek finansial merupakan mesin penggerak utama kehidupan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keuangan seseorang adalah perilaku berbelanja/ konsumsi.

Pandemi mengakibatkan pola konsumsi masyarakat berubah. Seperti diketahui, hampir sepanjang 2020, pemerintah selalu menghimbau masyarakat untuk tidak terlalu banyak beraktivitas di luar rumah. Berkurangnya tingkat mobilitas masyarakat mengakibatkan ketiadaan pasar fisik. Salah satu usaha yang terdampak adalah usaha ritel, hotel, restoran, pariwisata dan penerbangan. 

Indeks mobilitas mencatat bahwa selama bulan November-Desember, mobilitas di pusat transportasi umum dan tempat kerja mengalami penurunan sebanyak 21%-25% dibandingkan bulan Februari 2020. Bahkan di Bali yang merupakan salah satu destinasi wisata, mobilitas di area transportasi umum mengalami penurunan hingga lebih dari 50%, begitu pula dengan lokasi ritel dan rekreasi. Hal ini berbanding terbalik dengan mobilitas di area permukiman yang menunjukkan kenaikan hingga 11%.

Kenaikan dan penurunan tersebut menandakan adanya pergeseran preferensi atau perubahan pola hidup masyarakat selama pandemi. Hal tersebut juga memperkuat bahwa masyarakat nampaknya sudah terbiasa untuk beraktivitas dari rumah, begitu pula dalam memenuhi kebutuhan hariannya. Lebih dari 50% masyarakat yang termasuk sebagai responden survei yang dilakukan oleh McKinsey mengaku bahwa dirinya masih akan tetap melakukan belanja online dan memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi.


Kesadaran dalam Berbelanja

Momentum Tahun Baru ini sebaiknya dijadikan sebagai titik balik sekaligus sarana evaluasi guna menyusun strategi untuk ke depan. Kondisi pandemi diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2022. Walaupun saat ini program vaksinasi sudah dicanangkan dan rencananya akan dimulai pada April 2021, namun pola konsumsi masyarakat yang sudah terbentuk selama satu tahun ke belakang, bukanlah hal yang dapat berubah sertamerta.

Di era ekosistem digital yang sangat pesat dan kemudahan berbelanja, sangat dibutuhkan kesadaran diri khususnya dalam melakukan pengeluaran agar pengeluaran tidak didasari ego semata. Pandemi juga mendorong masyarakat untuk mengulik hobi-hobi baru. Alih-alih mengisi waktu luang, tren bercocok tanam, berkebun hingga bersepeda menjadi alternatif yang banyak diminati. Akibatnya, harga tanaman hias melonjak, begitu pula dengan harga sepeda. Total penjualan sepeda dan perlengkapannya pada bulan Februari sempat mencapai angka 160.000 unit produk dan mengalami peningkatan hingga pertengahan 2020.

Fenomena ini membuat masyarakat berlomba-lomba untuk mengikuti tren yang berkembang. Terlalu lama hidup dengan interaksi yang terbatas akan memunculkan sifat hedonisme yang tidak disadari dalam diri individu. Hal ini juga didukung dengan adanya kemudahan sistem pembayaran melalui pembayaran elektronik atau digital payment. Pembayaran menggunakan uang kas menyebabkan timbulnya psychological pain, yang berarti bahwa seseorang lebih merasa kehilangan uang dengan membayar secara tunai, daripada ketika membayar menggunakan sistem pembayaran nontunai (Menon, 2017).

Apabila tidak didukung oleh kesadaran penuh individu atas adanya bias kognitif yang mungkin timbul, maka hal tersebut akan menyebabkan seseorang lebih banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan-kebutuhan tersiernya.

Fenomena hilangnya psychological pain pada pembayaran elektronik seperti m-banking, Shopee Pay, OVO, Go-pay, Dana dan lain-lain. akan berdampak pada kebiasaan berbelanja seseorang. Terlebih selama pandemi ini e-commerce berlomba-lomba mengadakan pesta diskon dan gratis biaya kirim di tanggal “cantik” setiap bulannya. Oleh karena itu diperlukan kesadaran atas perilaku berbelanja individu, juga nilai barang yang dibeli agar terhindar dari belanja berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.


Manfaatkan Peluang

Ekosistem digital yang saat ini tumbuh dan berkembang di Indonesia mendorong adanya berbagai layanan yang sangat membantu aktivitas masyarakat di berbagai bidang, seperti perdagangan online, layanan berbagi tumpangan, distribusi media, serta layanan keuangan. Pesatnya pertumbuhan dunia digital juga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan akses layanan, serta membangun konektivitas yang lebih baik dengan warga global.

Adanya ekosistem digital ini akan mempengaruhi manufaktur lokal secara langsung yakni dengan menciptakan produsen baru, juga konsumen yang siap membeli produk.

Bagi konsumen, mungkin hal ini termasuk salah satu tantangan untuk mengelola lebih baik perilaku berbelanjanya, tetapi bagi produsen, hal ini semakin meningkatkan peluang usaha.

Salah satu survei menyebutkan bahwa lima dari 10 responden bernazar untuk membeli lebih banyak produk yang dibuat di Indonesia ataupun yang berasal dari bisnis lokal di komunitas mereka. Banyak pula yang berencana memesan makanan dari usaha kecil dan restoran lokal (Kapil & Potia, 2020). Hal ini dipengaruhi oleh budaya gotong royong dan semangat kebersamaan yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Usaha kecil yang dilakukan oleh perorangan justru dapat menjadi penopang ekonomi di kala krisis. Diperkirakan industri makanan, perlengkapan rumah tangga, kebutuhan pribadi, suplemen makanan, hingga perlengkapan kesehatan seperti masker dan handsanitizer masih akan menjadi primadona dan peluang bisnis di 2021.

Melihat grafik kasus aktif yang terus meningkat dan pemberian vaksinasi yang masih memerlukan uji klinis yang panjang, nampaknya membuat masyarakat harus kembali beradaptasi dan meningkatkan ketahanan di segala aspek kehidupan. Namun demikian, masyarakat seharusnya sudah banyak belajar selama satu tahun ke belakang dan menjadikan perjalanan selama 2020 sebagai bekal sekaligus menyusun strategi untuk menjalani hari di tahun yang baru. Tantangan dan peluang harus disikapi dengan bijak, begitu pula dengan pengeluaran dan pengelolaan keuangan.

Di masa pandemi yang belum jelas ujungnya ini, sebaiknya masyarakat tidak terjebak pada pengeluaran-pengeluaran yang bersifat sementara, yang tujuannya hanya untuk memenuhi kepuasan diri. Seseorang tidak dapat membatasi diri dari pengaruh media sosial hingga promosi e-commerce yang terus-menerus tiada henti. Tetapi seseorang bisa mengendalikan diri untuk membangun kesadaran dan menilai barang yang dibeli sesuai dengan nilai objektifnya serta manfaat yang diperoleh.



Penulis: Rasistia W. Primadineska (Dosen STIM YKPN)

Sumber: HarianJogja

Posting Komentar

0 Komentar