HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pidato Perdana Gus Yaqut Maknyos, FPI Makin Ciut?


Foto: Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas/Biro Setpres

OPINI - SUARA PURWAKARTA -
 THE right man on the right place and the right time, rasanya tepat dialamatkan pada Menteri Agama (Menag) yang baru, Yaqut Cholil Qoumas. Pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini hadir di tengah-tengah negara sedang membutuhkan sosok seorang Menag yang benar-benar menghargai toleransi beragama dan anti terhadap radikalisme. 

Ya, diketahui dalam beberapa waktu terakhir intoleransi antar umat beragama menjadi isu panas dan terus digoreng demi kepentingan politik atau pihak-pihak tertentu. Dampaknya, agama-agama minoritas kerap menjadi korban. Padahal, di sebuah negara yang menganut paham Pancasila, hal tersebut mestinya tidak terjadi. 

Harapan besar sempat muncul saat Presiden Jokowi dengan kebijakan out of the box-nya mengangkat Fachrul Razi sebagai Menag, pada awal pemerintahan jilid II. Pasca dilantik, mantan Wakil Panglima TNI pada periode 1999-2000 ini dengan tegas mengatakan bahwa dia bukanlah Menteri Agama Indonesia. Bukan Menteri Agama Indonesia. 

Namun, pada perjalanannya intoleransi masih jalan terus. Fachrul tidak bisa memberikan rasa damai bagi umat minoritas. Dan, terjadi pembiaran terhadap radikalisme. Contohnya, dia sempat membuat heboh tanah air. Pernyataan blundernya soal kepulangan eks kombatan ISIS memantik pro kontra dan mengundang diskursus publik cukup panjang. 

Kembali pada Gus Yaqut. Tugas perdananya sebagai Menag telah dia tunaikan dengan sangat baik. Pidato sambutan memperingati perayaan Natal yang saya tonton di salah satu chanel youtoube begitu maknyos. Pidato sambutannya membuat adem dan memberikan harapan besar bagi seluruh umat beragama di Indonesia, bisa hidup rukun dan damai. 

Meski seorang umat Muslim, dalam pidato sambutan perayaan Natal, Gus Yaqut bukan saja menghargai umat Kristen, dia juga memposisikan Kristen sebagai agama yang begitu mulia. Tema yang dibawa adalah Immanuel, Tuhan beserta kita. Bahkan dia membahas tentang pandangan teologis tentang Immanuel. Rasanya, selama hidup belum pernah saya menyaksikan pidato sambutan perayaan Natal oleh Menag segamblang itu. 

Pemahaman Gus Yaqut soal  tuhan agama Kristen, Yesus Kristus begitu dalam. Selain memberikan pemahaman teologi yang benar, dia juga memberikan nasehat kepada orang Kristen di Indonesia. Ketua GP Ansor ini meminta kepada seluruh umat Kristen tanah air untuk merayakannya dengan sederhana, menjauhi sifat konsumtif dan yang paling penting tetap mematuhi protokol kesehatan. Dengan kata lain, pria kelahiran Rembang, 4 Januari 1975 ini berperan penting dalam menjamin keamanan negara. Menjadikan umat Kristen sebagai mitra pemerintah dalam membangun peradaban yang lebih toleran. 

Dalam pidatonya juga, Gus Yaqut menyiratkan sebuah pesan bahwa peradaban dan saling menghargai antar umat beragama, antar suku dan golongan sangat diperlukan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia benar-benar telah mampu memberikan inspirasi, bukan sekadar menampung aspirasi. Perbedaan itu bukan untuk memisahkan, tapi justru untuk mempersatukan. 

Sementara bagi semua umat beragama, kehadiran Gus Yaqut diyakini bakal mampu memberi ketenangan dan kedamaian, beda halnya dengan kelompok Front Pembela Islam (FPI). 

Gus Yaqut selama ini terkenal sebagai sosok yang sangat mengecam aksi-aksi radikalisme dan ormas-ormas radikal. Diakui atau tidak, FPI selama ini dikenal sebagai salah satu ormas yang tindak-tanduknya mengarah pada paham-paham tersebut. 

Sepak terjangnya yang kerap beringasan, bahkan tak jarang menantang serta mengancam kedaulatan pemerintahan yang sah, telah banyak meresahkan masyarakat tanah air. Maka, dengan terpilihnya Gus Yaqut sebagai Menag, hampir dipastikan eksistensi FPI bakal tidak nyaman. Apalagi posisi mereka saat ini sangat tidak menguntungkan. 

Habib Rizieq Shihab sebagai pimpinan tertinggi tengah ditahan, para petinggi FPI lainnya seperti Haikal Hasan dan Munarman sepertinya tengah menjadi bidikan pihak kepolisian berikutnya. Setidaknya tindak-tanduk serta sikap kedua orang ini telah dilaporkan pada pihak berwajib. Tinggal menunggu proses selanjutnya. 

Sebelumnya enam laskar FPI tewas ditembus timah panas oleh polisi Polda Metro Jaya. Dan, pengikut Habib Rizieq yang menyebarkan ujaran kebencian dan mengancam pihak kepolisian pun satu per satu telah ditangkap. Kondisi ini membuat FPI lambat-laun tak berdaya. 

Kondisi terjepit FPI makin terancam dengan kehadiran Gus Yaqut sebagai Menag. Diketahui, ia dan pasukan banser merupakan "musuh utama" FPI. Mereka tak jarang saling berhadapan atau head to head langsung dalam beberapa kasus. 

Boleh jadi setelah diangkat Menag, ada pendekatan berbeda dari Gus Yaqut. Tapi, sepertinya rekam jejak tak bisa dihapus begitu saja. FPI boleh jadi tidak akan lagi mampu bergerak bebas, bahkan sudah ciut duluan bila hendak melakukan hal-hal yang bisa memecah belah umat atau merongrong kondusifitas keamanan negara. 

Akhirul kata, semoga Gus Yaqut diberikan kesehatan dan kekuatan yang cukup untuk menjalankan tugas sebagai Menteri Agama. Dan, membawa Indonesia lebih baik. 


Salam

Penulis: Elang Maulana

Sumber: Kompasiana

Posting Komentar

0 Komentar