HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dunia Politik Itu Kepentingan, Tak Mengenal Musuh

Ilustrasi Joko Widodo, Ma'ruf Amin, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno


SUARA PURWAKARTA - Akhirnya, seperti yang sudah diperkirakan banyak pihak, seteru politik Presiden Jokowi dalam Pilpres 2019 melengkapi Kabinet Indonesia Maju. Sejatinya, banyak pihak yang berpikir bahwa masuknya calon Wakil Presiden yang kalah ini, akan ditarik masuk ke dalam Kabinet oleh Jokowi bersamaan dengan ditariknya calon Presiden yang kalah. Namun, karena "politik" maka inilah kisah dan skenario yang harus dibuat. Pada akhirnya, meski berbeda waktu, dua lawan politik itu akhirnya bersatu di pihak lawan yang "dibuat" menyisihkannya.Rakyat pun banyak yang kagum sekaligus bingung. Bagaimana mungkin, pertarungan dalam Pilres yang mengharu biru hingga perseteruan berujung ke meja Mahkamah Konstitusi (MK), dan melahirkan konflik dan permusuhan tak berujung hingga sangat dekat dengan disintegrasi bangsa, akhirnya para pendukung kedua belah pihak harus kagum dan bingung.

Kagum, karena banyak yang memandang calon Presiden dan Wakil Presiden sangat  berjiwa besar dan rendah hati, sehingga demi meredakan konflik para pendukung kedua belah pihak, akhirnya mau duduk sebagai kawan. Begitu mudah menghapus dan melupakan apa yang telah terjadi, hingga sampai ada yang berpikir, mereka ini bukan berbesar hati atau rendah hati, tetapi malah merendahkan diri demi kepentingan dan ambisi pribadi, dan berbalik membikin sakit hati para pendukung masing-masing.

Banyak rakyat berharap, semestinya calon Presiden dan Wakil Presiden yang kalah, tidak menambah luka hati para pendukungnya, yang sudah berusaha mendukung dan memberikan suaranya untuk mereka. Namun, tanpa pamit dan permisi kepada pendukung yang sudah memberikan suara, malah mengambil suara sendiri, memutuskan sendiri mengambil kursi yang ditawarkan lawannya. Untuk siapa dua orang ini mengorbankan diri mau menjadi kawan di pihak lawan.

Pasalnya, pihak pendukung yang kini menjadi Presiden dan Wakil Presiden pun, turut kecewa karena pihak lawan malah dikasih kedudukan. Sementara para pendukung dan simpatisannya pun masih berharap mendapat kursi di Kabinet Indonesia Maju.

Inilah fakta dan fenomena yang ada. Rakyat hanya diperas suaranya dengan sebelumnya "dibikin" bermusuhan dan berkonflik, namun giliran pesta demokrasi usai, rakyat ditinggal demi kepentingan-kepentingan dan ambisi yang tak ada kaitannya dengan amanah rakyat.

Itulah mengapa, tidak ada musuh atau teman abadi di dalam politik, yang ada hanya kepentingan dan ambisi abadi. Sehingga kini dalam perombakan atau reshuffle kabinet yang baru saja diumumkan Presiden Joko Widodo.

Selasa sore (22/12/2020), dari enam orang yang masuk ke dalam Kabinet Indonesia Maju, akhirnya masuk lawan politik yang satunya. Dia adalah calon Wakil Presiden "yang dikalahkan", Sandiaga Uno, menyusul rekannya Prabowo hingga duet yang kalah Prabowo-Sandi, bersatu di bawah Jokowi.

Luar biasa, perseteruan saat kampanye Pilpres 2019 yang menimbulkan luka mendalam, membuat rakyat terpolarisasi, dan ada oposisi, kini tiada arti bagi rakyat. Tapi menjadi sangat berarti bagi "mereka".

Itulah sebabnya, tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Prabowo Subianto menerima pinangan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan di Kabit Indonesia Maju. Sandiaga Uno pun seperti sudah ditebak dan sesuai skenario melepas baju oposisi menyusul duetnya.

Bila ada pihak tak menyangka, Presiden Jokowi menunjuknya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggantikan Wisnutama, lebih banyak pihak yang sudah tahu, masuknya Sandi hanya masalah waktu saja, agar tak nampak rombongan dengan Prabowo. Mungkin inilah yang dinamakan etika berpolitik agar terlihat santun dan bermartabat.

Atas momentum ini, rakyat pun kini harus menyadari, untuk apa berseteru demi mendukung junjungannya, memberikan suaranya, bila pada akhirnya rakyat hanya menjadi korban dan dikorbankan, sementara "mereka" begitu mudah menghapus peristiwa yang kesannya untuk mempersatukan bangsa. Padahal di baliknya ada apa?

Dalam politik telah terbukti tidak ada musuh atau teman abadi, yang ada hanya kepentingan dan ambisi abadi, karenanya rakyat yang hanya dijadikan alat politik, mengapa mau dibohongi hingga terus terbakar api permusuhan?

Seharusnya rakyat bersatu, bukan saling bermusuhan, sebab lawan rakyat adalah pemimpin yang dipilih atas suara rakyat namun tidak amanah, dan menjadikan kursi dan jabatan hanya untuk kepentingan cukong, ambisi ologarki, dan dinasti politik. Tidak ada itu oposisi, yang ada saling berbagi, tapi bukan untuk rakyat yang telah dikorbankan.


Penulis Opini: Supartono JW

Sumber: Kompasiana

Posting Komentar

0 Komentar