HOT

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Drakor Start Up : Drama Korea Rasa Pilpres

Drama Korea Start Up

SUARA PURWAKARTA - 2017 bangsa ini ribut antara yang merasa Ahok tidak menista agama dengan yang menganggap dirinya penista. 2018 sampai 2019 ada kubu Jokower, ada juga yang Asal Bukan Jokowi. Nggak, saya nggak akan bilang kubu Jokowi vs Kubu Prabowo sebab nyatanya ya kebanyakan yang waktu itu milih Prabowo adalah mereka yang Asal Bukan Jokowi. Lagipula toh Prabowo akhirnya juga bergabung ke kabinet.

2020 bangsa ini eyel-eyelan lagi. Kali ini perang antara ada yang ngotot #TimHanJiPyeong vs #TimNamDoSan. Pertarungannya sengit, bahkan saya menemukan beberapa influencer yang misal posting dia masuk salah satu tim, eh langsung didebat oleh netizen yang memihak tim lain. Panas! Udah kayak mau Pilpres!

Padahal ini cuma drama Korea.....

Judulnya Start Up. Ditayangkan di Netflix sebanyak 16 episode. Sekarang sudah tamat makanya saya berani nulis panjang lebar. Asumsi saya, maniak drakor rata-rata sudah menamatkan. Mungkin mereka yang biasa kalau sudah tamat baru mulai nonton yang masih belum tamat.

Ceritanya ada seorang cewek bernama Seo Dal Mi (Bae Suzy) yang ingin membuktikan bahwa keputusannya memilih ikut ayah saat orangtuanya bercerai adalah keputusan yang tepat. Ia ingin membuktikan itu ke Seo In Jae (Kang Han-Na) yang memilih ikut sang Ibu. Ibu mereka ini setelah bercerai menikah dengan konglomerat yang salah satu bisnisnya bergerak di bidang teknologi juga.

Pasca sang ayah meninggal, Dal Mi hidup bersama nenek (Halmeoni) Choi Won-Deok. Halmeoni ini mengelola kios corn dog. Suatu hari Halmeoni menolong seorang anak remaja yang baru keluar dari panti asuhan bernama Han Ji Pyeong (Kim Seon-ho). Sebagai imbalannya, Ji Pyeong disuruh menuliskan surat untuk menghibur Dal Mi, ala-ala sahabat pena gitulah, tanpa dua anak ini pernah bertemu. Nama pena yang dipakai oleh Ji Pyeong adalah Nam Do San.

Suatu hari Dal Mi ingin bertemu dengan Nam Do San yang selama ini bersurat dengannya. Ji Pyeong dan Halmeoni pun jadi bingung dan mereka mencari sosok yang dulu mereka pakai namanya untuk jadi teman pena Dal Mi. Ternyata Do San (Nam Joo-Hyuk) yang kecilnya juara matematika menjadi jago IT dan sedang membangun start up dengan nama Samsan Tech bersama dua temannya, Yong San dan Chul San.

Ji Pyeong yang sudah menjadi manager di sebuah modal ventura, mendatangi Do San untuk berpura-pura jadi pengirim surat. Ya pokoknya mulai dari situlah dramanya terjadi. Bagaimana ceritanya? Tonton aja sendiri...

Saya hanya mau membahas soal beberapa scene yang buat saya merasa "wow" pas nonton.

1.Saat Dal Mi bertanya ke Ji Pyeong soal menjadi orang baik dan menjadi CEO. Intinya ketika kita menjadi pemimpin, kita nggak mungkin selalu menyenangkan orang dengan keputusan kita.

2.Saat Ji Pyeong sadar bahwa Dal Mi memilih Do San. Dia memang meminta pot dan suratnya kembali, tapi dia rela melepaskan keinginannya bersama Dal Mi. Buat saya ini bentuk kedewasaan, tahu kapan harus let go sesuatu, termasuk ketika sayang dengan seseorang.

3.Saat Halmeoni sadar bahwa Do San lah yang akan bersama Dal Mi, dia paham betul Ji Pyeong si anak baik sedang patah hati. Dia datang ke apartemen Ji Pyeong dan memberinya penghiburan tanpa harus membahas soal patah hati itu. Ia 'merangkul' Ji Pyeong sebagai sosok yang sudah dianggap sebagai keluarga.

4.Saat Do San menjawab taruhannya jika menang tender adalah melamar. Perkembangan karakter Do San dari ahli IT yang pinter tapi lugu menjadi pintar dan tahu apa yang dia mau serta berkembangnya caranya berpikir buat saya sangat wow. Writernimnya sepertinya memang sayang banget sama karakter Do San ini.

Apa pelajaran dari film ini? Hmmm.. Saya sih sebenarnya nggak tipe yang harus mengambil pelajaran dari apa yang saya tonton. Tapi mungkin ya sikap Ji Pyeong yang kurang gesit memanfaatkan tiga tahun perginya Do San itu pelajaran berharga. Kalau memang suka sama seseorang maka perjuangkan. Tapi itu tadi, kita juga harus sadar kapan kita harus bisa ambil sikap merelakan. Lainnya mungkin soal kerja keras, team work, dan semangat serta belajar intrik-intrik di dunia kerja. Orang-orang yang punya privilege itu memang 'enak' dan nggak harus mulai dari nol, tapi kalau mereka nggak mau kerja keras juga mereka bisa tertinggal.


Opini: Rahmatika on Seword

Posting Komentar

0 Komentar